“Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah anak kecocokan jiwa dan jika itu tidak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan milenia”
Labels: Cultural Studies
Quote:
"Jika telah ada teori pemilahan pasangan guna menghasilkan keturunan yang unggul, lalu apakah rasa atau komposisi chemistry bisa direkayasa sedemikian rupa sehingga sexual mating berlangsung?"
Lho bukannya ini yang dipraktekkan lewat proses ta'arruf?
Teman saya (akhwat) malah ada yg dengan bangganya bilang kalau dia bisa menikah dengan mata tertutup hahaha..
At March 11, 2008 6:35 AM, Warastuti
to Te Tika:
:)
Nah itu dia, Teh.. Kayaknya menarik deh ngebahas ini dari sudut farmakologi dan psikologi.
Kek yang di Eternal Sunshine tea lho Teh.. kalo pengen nglupain orang, tinggal dateng ke dokter. Kalo pengen ngilangin cinta, tinggal turunin komposisi dopamin ama serotonin..
Cinta..cinta..deritanya memang tiada akhir..=D
to Yazid:
Iya juga ya. Tapi idealnya kemantapan hati dalam menumbuhkan chemistry itu ada.
Aku juga berpikir kaitan antara simulasi itu dengan praktik yang sudah dilakukan dalam komunitas tertentu.
*Mangkanya, kagak dah.. caranya kalo proposal gw diedarin macam pemilihan ayam!! Murobbinya kudu bijak. Kalo ikhwan tarbiyah tidak lebih baik dari ikhwan ammah, so what?? Apa ada dalilnya harus nikah dengan ikhwan tarbiyah?
Dari berbagai macam cinta: mulai dari cinta tanah air, cinta pada hewan peliharaan, cinta mobil, cinta buku.. hanya cinta pada lawan jenis yang tampaknya punya sifat khusus: lebih susah tumbuhnya, lebih susah juga hilangnya.. lebih dahsyat efek psikologis dari riak riaknya.
kenapa ya cinta yg ini beda sendiri?
At March 13, 2008 6:59 PM, ariani
Hihi, mau yang ilmiah bisa baca di Kompas atau National Geographic, aku lupa edisinya, tapi bisa dicari di Google.
Aku nulis tanggapan buat tulisan kamu di blog-ku. Aku sendiri ngga begitu setuju dengan kuantifikasi cinta, bahkan kalau ada efek-efek yang bisa diperoleh dari zat adiktif, semisal coklat, atau zat-zat kimia buatan. Imajinasi juga bisa memancing tubuh melepaskan zat-zat tertentu, tentu anak farmasi lebih mengerti masalah ini.
Tentang realitas sosial... aku sendiri lagi senang dengan pandangan constructivim. Segala hal bisa dijelaskan dari konstruksi, seperti tulisan ika: kenapa perempuan digambarkan malu dan bersemu, kenapa persoalan cinta masih dipandang dengan cara yang menggebu, kenapa tema ini tak ada habisnya?
Kalau menggunakan pandangan konstructivism, tema cinta tak ada habisnya karena laku dijual. Karena itu hari Valentine's day diciptakan. Ada riset yang menyebutkan perputaran uang di hari itu menjadi sangat tinggi. Hotel full, benda-benda pink, coklat, dsb. Tapi ada juga pandangan yang memandang cinta sebagai sesuatu yang alamiah, dan karena itu tetap laku secara ilmiah.
At March 14, 2008 6:09 AM, Warastuti
kepada Arif:
Ada juga yang easy come, easy go. Namun apakah itu cinta?
Pada mereka yang (merasa) terlahir untuk berkorban, mungkin cinta-yang-satu-ini yang Arif maksud tidak pernah hadir.
Lalu terejawantah entah dalam novel, memoar, sajak, atau komposisi musik...
kepada Yuti:
Cinta dalam segala dimensi dan diskursus memang memukau kali ya, Yut..?
Jika Yuti tidak berkeberatan mari lanjutkan topik ini
At April 17, 2008 11:24 PM, rela
aduuuu, pami baca tulisan neng ika atanapi neng yuti teh..suka membuat mata berkerut..istilahnya yang out of my mind..maklum gak berwawasan luas.. :p
cuma, pingin komen, entah nyambung entah ngga hehe...
"aku mencintainya, karena aku mengumpulkan beribu macam kebaikannya dalam hatiku"
"aku mencintainya, karena segala kekurangannya kuanggap sebagai kesempurnaannya sebagai seorang manusia"
"aku mencintainya, karena Alloh telah mengjinkanku untuk mencintainya dalam sebuah mitsaqan ghalizha"
"kenapa aku mau untuk mencintainya?"
"karena saat bertemu dengannya, Alloh memberikan ketentraman hati yang begitu tenang kurasakan"...
.....
mmh btw mungkin parameternya bukan ikhwan tarbiyah atau bukan..
tapi kesamaan visi, karena kalian akan bekerjasama membangun sebuah peradaban...
jika visi berbeda, apalagi kita sebagai yang dipimpin..maka akan banyak ketidak sinkronan yang terjadi,
mungkin kita bisa mengalah... tapi seberapa lama dan seberapa kuat,
sementara visi "dakwah" kaitannya bukan hanya idealisme pribadi, tapi menyangkut hubungan kita dg Rabb kita...
mampukah kita bertahan jika ada yang menghalangi ungkapan cinta kita pada Rabb kita?
allahu'alam bi showab...
*makanya..saya milih suami saya, karena insyaAlloh punya visa dakwah yang sama..dan alhamdulillah biodata saya tidak terbang kemana - mana hehe...
janten....gimana selanjutnya? hehe ;)
uuu kangeeeeeen ma ika....:((
Ika, ini cerita beneran ya?? Dimana??
Ikut begidik juga membayangkan rekayasa chemistry cinta untuk pemilihan keturunan. Tapi mungkin berguna untuk mempermudah jalan hidup seseorang, agar realitas hidup dan chemistry sejalan. Klo gak ada chemistry tinggal suntik aja dopamine sekian trus serotonin sekian, jadi deh cinta. hiks..:((
Jadi chemistry cinta itu sebenarnya apa sih? Kadar neurotransmitter dalam jumlah tertentu?? Tapi ada yang bilang u don't choose love, love chooses u..
Btw, keknya kalo kita Ym-an ngomongin cinta gak selese-selese ya Ka? ;))