Sinaran
Sejak fitrah ditetapkan atas batas surga dan dunia, palung rindu tercipta, ribuan tanya beriak, dan cakrawala adalah pasungan. Riuh rendah manusia hanyalah cakap satu tema yang coba dirunutkan oleh penyair dari zaman ke zaman. Ia menjelma jadi sinaran hikmah..yang berpendar sejenak dalam jenuh tawa dan pekat airmata
Warastuti
Name: Warastuti
From: Indonesia
About me: Koleris-melankolis Coffee and tempe lovers
More..


gorgeus_ika @ yahoo.com (YM)
Rekan-rekan
Ahmad Fikri - Kang Ipin - Agah - Aldi - Aly Imron - Amir Dessy - Mbak Amo - Andiw - Andreas Harsono - Andres - Andro - Anx - Mas Ari Perdana - Arifianto - Arif - Army - Awan - Bram - Beni - Mbak Didin - Dika - Dimsum - Donny - Catuy - Pa Egi - Anggiara - Fajar - aBy - Galih - Galuh - Ganda - Haldi - Hanum - Harry - Bang Hokky - Ikram - Komentator - Fathy - Intan - Intan "Inspirit"- Kuncoro - Listya - Lucky - Teh Wiwit - Echa - Miftah - Fadil - Helmi - Lupi - Yando - Mutiara Madinah - Pipit - Nofie Iman - Nova - Nurhadi Sukma - Paidjan - Agung - Dati - Mita - Ratih - Reni - Teh Rela - Kang Rezha - Anak-anak Riuh - Rivani - Kang Roby - Peppen - Sakyahara - Ales - Sebazz - Shilda - Shinta - Taufik - Te Tika - Trian - Ulfah - Ulya - Usman - Vetri - Wiyono - Yayo - Yentri - Yoyo - Kang Yugi - Yanuar Nugroho - Yustika - Yuti - Zaki - Zulkieflimansyah
Figur
  • Ahmadinejad
  • Ali Shariati
  • Bill Gates
  • Budi Rahardjo
  • Chick Corea
  • Daniel Phillips Henney
  • Debbie Sofie Retnoningrum
  • Denzel Washington
  • Evelyn Fox Keller
  • Enya
  • Fritjof Capra
  • George Soros
  • Hidayat Nurwahid
  • Hillary Clinton
  • Incognito
  • Jalaluddin Rumi
  • Jamiroquai
  • Jeffrey Sach
  • JK
  • Juwono Sudarsono
  • Lighthouse Family
  • Margaret Thatcher
  • Mario Teguh
  • Michael Jordan
  • Michael E.Porter
  • Muhammad Iqbal
  • Noam Chomsky
  • Oprah Winfrey
  • Presiden SBY
  • Stephen Hawking
  • Taufikurahman
  • Toto
  • Triharyo Indrawan Soesilo
  • Wolfgang Amadeus Mozart
  • Kaitan
  • AC Milan
  • Agribisnis Ganesha
  • Al Manhaj
  • American-Israel Patriot's Blog
  • Ashoka Foundation
  • Ayah Bunda
  • Baitur Rahmah
  • Body Shop
  • Braun Buffel
  • BusinessWeek
  • Cambridge University
  • Cerita Kita, Cerita DK
  • Dakwatuna
  • (Radio) Delta
  • DetikCom
  • Dompet Dhuafa
  • Entrepreneur
  • Eramuslim
  • Gerschwin "Rhapsody in Blue"
  • Getty Images
  • Grameen Bank
  • Halal Guide
  • Harvard University
  • INSIST
  • IKEA
  • ITB
  • Journalism
  • KM ITB
  • Kafe Salemba
  • Keane
  • Kedai Kopi
  • Kompas Cyber Media
  • Komunitas Tarbiyah London
  • Lebanon
  • Martha Stewart
  • MIT Open Course
  • Materi Tarbiyah
  • Milis Beasiswa
  • Moslem Blog
  • National Geographic
  • Net Sains
  • The New Republic
  • The New York Times
  • The Washington Post
  • Time Magazines
  • Tokyo University
  • Pabrik Bunyi
  • PKS Watchhh
  • PPSDMS
  • Republika
  • Rockport
  • Santa Fe Institute
  • Save Palestine!
  • SWA Online
  • Tanya-Jawab Seputar Islam
  • Tempo Interaktif
  • Voice of America
  • Wikipedia
  • Runutan
    • Resep Dokter
    • Cerita dari Purworejo
    • Manis
    • Akulturasi Budaya "Tombo Ati"
    • First Indonesian Muhammad SAW Sirah
    • Jamie and The Myth
    • Susu Soleha
    • Konduktor Semesta
    • Somebody Else’s World
    • Morning Dew
    Sekat
    Aforisme - Buku - Cerita - Cultural Studies - Dialog Imajiner - Ekonomi - Fiksi - Filosofi - Gumam - Imaji - Jurnalisme - Kampusku - Kesehatan - Kontemplasi - Kuliah - Kutipan - Parenting - Pendidikan - Perempuan - Politik - Sajak - Sejarah - Sosial Budaya
    Yang Tersimpan
    • January 2005
    • April 2005
    • July 2005
    • August 2005
    • September 2005
    • October 2005
    • December 2005
    • January 2006
    • February 2006
    • March 2006
    • April 2006
    • May 2006
    • June 2006
    • July 2006
    • August 2006
    • September 2006
    • October 2006
    • November 2006
    • December 2006
    • January 2007
    • February 2007
    • March 2007
    • April 2007
    • May 2007
    • June 2007
    • July 2007
    • August 2007
    • September 2007
    • October 2007
    • November 2007
    • December 2007
    • January 2008
    • February 2008
    • March 2008
    • April 2008
    • May 2008
    • June 2008
    • July 2008
    • August 2008
    • September 2008
    • October 2008
    • November 2008
    • December 2008
    • January 2009
    • February 2009
    • March 2009
    • May 2009
    • June 2009
    Bertuturlah...
    Yang Baru Bicara
    Kaki
    Layout design by :Pannasmontata
    Modified by : [ Trian ]
    Powered by :

    Powered by Blogger

    Tuesday, March 11, 2008,3:44 AM
    Alat Pengukur Cinta


    Dalam forum semisantai bersama orang-orang pintar itu saya takut-takut mengacungkan tangan. Lalu, setelah mengatur fokus saya mulai bertanya…

    “Prof, ada tidak alat untuk mengukur cinta?”

    Semua terdiam. Yang ditanya agak mengernyitkan dahi. Lalu saya melanjutkan bicara, dengan harap memberi penerangan pada inti pertanyaan.

    ”Kabar yang saya dengar pada orang jatuh cinta itu kadar dopamin dalam tubuhnya 40%, sama seperti yang ditemui dalam kondisi psikopati”

    ”Dari siapa Anda dapat kabar itu?”, Prof tersenyum bijak

    ”Mati kutulah gua.. Makanya, Ka.. jangan ngutip kata-kata orang sembarangan”
    , gerutu saya dalam hati

    Saya tidak menjawab.

    ”Jadi Anda mau mengukur kadar dopamin dalam tubuh Anda untuk tahu Anda jatuh cinta atau tidak, begitu?”

    Semua tertawa geli. Muka saya panas karena malu.

    ”Cinta itu yaa.. cinta.. Love as simple it is..”, kata Prof

    Wah, mirip kalimat dalam buku The Witch of Portobello-nya Coelho jawabannya. Mungkin Prof tidak siap ditanya demikian. Untuk menetralkan suasana yang dicurigai cukup intimidatif, saya bicara lagi…

    “Saya hanya terkadang berpikir jika memang ada alat pengukur.. mungkin rasa cinta juga bisa direkayasa.. sehingga orang yang jatuh cinta tidak perlu merasa tertekan, menderita.. atau tersiksa”

    Semua terdiam. Tiba-tiba saya merasakan aura sendu dan haru mengental di udara. Saya jadi merasa bersalah.

    Prof merespon, ”Jika memang ada orang yang ingin meneliti tentang cinta.. mempolakan cinta.. dan sebagainya, saya rasa prasyarat dasarnya satu: Dia harus merasakan jatuh cinta dulu”

    ”Berbicara rasa manusia saya rasa sesuatu yang kompleks..beyond chemical matters.. walaupun manifestasinya memang bisa terlihat secara kimiawi”


    ”Anda sudah pernah jatuh cinta?”


    Grr.. Semua tertawa.

    ”Hmm.. bukan saya Prof yang mau meneliti..”

    Semua tertawa lagi

    ”Hloh..kan pertanyaan saya Anda pernah jatuh cinta atau tidak..”


    Saya hanya cengengesan. Untung masih bisa cengengesan!

    ”Menurut Anda sendiri cinta itu apa?”

    Wah, saya diserang balik!

    Yang saya ingat ketika itu hanya sebuah aforisme Kahlil Gibran yang bicara soal cinta


    “Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah anak kecocokan jiwa dan jika itu tidak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan milenia”


    Mulanya, secara alami alasan orang jatuh cinta sangat acak, tetapi kemudian idealita berbentur dengan realita: Kesan faktual terhadap orang yang dicintai, nilai-nilai kehidupan, prediksi dan prioritas masa depan, yang kemudian menentukan bentuk pengejawantahan cinta tersebut, apakah ia berujung pada pelaminan, platonis, atau harus mati? Rasio antara idealita dan realita berbeda pada setiap orang. Namun berbicara cinta hari ini mungkin cukup mengenaskan. Cinta secara tidak sadar ditransformasikan melalui variabel-variabel materialistis, citra yang sedang populis, masa depan yang sedang tren, hingga aksesori-aksesori kehidupan yang sedang “in”. Sehingga saat ini kita bisa melihat di acara-acara reality show TV, seorang lelaki matang (ukuran matang di sini saya rujuk pada pembagian usia dan kedewasaan menurut Ali bin Abi Thalib, bukan Freud, yakni mulai 15 tahun: Deadline bagi sempurnanya adab, ilmu, dan disiplin seseorang) dengan boneka beruang di tangan kiri dan bunga mawar yang setangkai lima ribuan di tangan kanan berkata “cinta”. Aigoo..aigoo pening kepala saya melihatnya.

    Sampai saat ini saya berpikir, jika kita ingin memodelkan pemilihan pasangan intraspesies Homo sapiens dengan harapan bisa menggambarkan model yang baik dan memiliki arti terhadap bentuk peradaban yang humanis/bertata nilai, maka bukankah peradaban madani yang pernah hadir di muka bumi ini pernah mencontohkannya? Hmm, bergantung pada parameter kualitas keturunan yang didefinisikan memang.. Secara teknis kemudian muncul pertanyaan di benak saya: Jika telah ada teori pemilahan pasangan guna menghasilkan keturunan yang unggul, lalu apakah rasa atau komposisi chemistry bisa direkayasa sedemikian rupa sehingga sexual mating berlangsung? Tiba-tiba saya jadi bergidik mengingat cerita sahabat saya soal aplikasi teori evolusi dalam relasi antarmanusia. Dalam kerangkanya manusia dinilai berdasar keberartian dan manfaatnya bagi orang lain, yang secara sekuensial menentukan seberapa tinggi manusia yang bersangkutan pantas dihargai. Begitu banyak pertanyaan muncul di kepala saya ketika membahas pemodelan realitas sosial.


    Labels: Cultural Studies

     
    posted by Warastuti | Permalink |


    13 Comments:


    • At March 11, 2008 5:16 AM, Blogger teeka

      Ika, ini cerita beneran ya?? Dimana??

      Ikut begidik juga membayangkan rekayasa chemistry cinta untuk pemilihan keturunan. Tapi mungkin berguna untuk mempermudah jalan hidup seseorang, agar realitas hidup dan chemistry sejalan. Klo gak ada chemistry tinggal suntik aja dopamine sekian trus serotonin sekian, jadi deh cinta. hiks..:((

      Jadi chemistry cinta itu sebenarnya apa sih? Kadar neurotransmitter dalam jumlah tertentu?? Tapi ada yang bilang u don't choose love, love chooses u..

      Btw, keknya kalo kita Ym-an ngomongin cinta gak selese-selese ya Ka? ;))

       
    • At March 11, 2008 5:36 AM, Anonymous Anonymous

      Quote:
      "Jika telah ada teori pemilahan pasangan guna menghasilkan keturunan yang unggul, lalu apakah rasa atau komposisi chemistry bisa direkayasa sedemikian rupa sehingga sexual mating berlangsung?"

      Lho bukannya ini yang dipraktekkan lewat proses ta'arruf?
      Teman saya (akhwat) malah ada yg dengan bangganya bilang kalau dia bisa menikah dengan mata tertutup hahaha..

       
    • At March 11, 2008 6:35 AM, Blogger Warastuti

      to Te Tika:

      :)

      Nah itu dia, Teh.. Kayaknya menarik deh ngebahas ini dari sudut farmakologi dan psikologi.

      Kek yang di Eternal Sunshine tea lho Teh.. kalo pengen nglupain orang, tinggal dateng ke dokter. Kalo pengen ngilangin cinta, tinggal turunin komposisi dopamin ama serotonin..

      Cinta..cinta..deritanya memang tiada akhir..=D

      to Yazid:

      Iya juga ya. Tapi idealnya kemantapan hati dalam menumbuhkan chemistry itu ada.

      Aku juga berpikir kaitan antara simulasi itu dengan praktik yang sudah dilakukan dalam komunitas tertentu.

      *Mangkanya, kagak dah.. caranya kalo proposal gw diedarin macam pemilihan ayam!! Murobbinya kudu bijak. Kalo ikhwan tarbiyah tidak lebih baik dari ikhwan ammah, so what?? Apa ada dalilnya harus nikah dengan ikhwan tarbiyah?

       
    • At March 11, 2008 10:08 AM, Anonymous iman brotoseno

      cinta itu bukannya hanya alpha dan omega..hanya awal dan akhir.

       
    • At March 11, 2008 4:19 PM, Blogger radi

      cinta itu ada rasa dag dig dug...cenah mah...

       
    • At March 11, 2008 7:12 PM, Blogger ariani

      Hihi, ini toh tulisan tentang cinta...

      Bahkan kematian manusia yang pertama pun disebabkan oleh cinta...

      [mode curiga: ON]
      Memangnya kamu mau merekayasa cintamu pada siapa ka? hoho

       
    • At March 12, 2008 1:16 AM, Blogger Warastuti

      to Mas Iman dan Radi:

      Entah. Diriku bingung

      to Yuti:

      Ah, rese' niii.. Yuti.. Aku tu mengharap komen yang ilmiah Yut!:( BT deh.. Kamu kan ahlinya, soal diskursus pemodelan realitas sosial gitu..

      Dari kemarin bawaannya curigaan mulu:(

       
    • At March 12, 2008 5:58 AM, Anonymous Arif

      Dari berbagai macam cinta: mulai dari cinta tanah air, cinta pada hewan peliharaan, cinta mobil, cinta buku.. hanya cinta pada lawan jenis yang tampaknya punya sifat khusus: lebih susah tumbuhnya, lebih susah juga hilangnya.. lebih dahsyat efek psikologis dari riak riaknya.
      kenapa ya cinta yg ini beda sendiri?

       
    • At March 13, 2008 6:59 PM, Blogger ariani

      Hihi, mau yang ilmiah bisa baca di Kompas atau National Geographic, aku lupa edisinya, tapi bisa dicari di Google.

      Aku nulis tanggapan buat tulisan kamu di blog-ku. Aku sendiri ngga begitu setuju dengan kuantifikasi cinta, bahkan kalau ada efek-efek yang bisa diperoleh dari zat adiktif, semisal coklat, atau zat-zat kimia buatan. Imajinasi juga bisa memancing tubuh melepaskan zat-zat tertentu, tentu anak farmasi lebih mengerti masalah ini.

      Tentang realitas sosial... aku sendiri lagi senang dengan pandangan constructivim. Segala hal bisa dijelaskan dari konstruksi, seperti tulisan ika: kenapa perempuan digambarkan malu dan bersemu, kenapa persoalan cinta masih dipandang dengan cara yang menggebu, kenapa tema ini tak ada habisnya?

      Kalau menggunakan pandangan konstructivism, tema cinta tak ada habisnya karena laku dijual. Karena itu hari Valentine's day diciptakan. Ada riset yang menyebutkan perputaran uang di hari itu menjadi sangat tinggi. Hotel full, benda-benda pink, coklat, dsb. Tapi ada juga pandangan yang memandang cinta sebagai sesuatu yang alamiah, dan karena itu tetap laku secara ilmiah.

       
    • At March 14, 2008 6:09 AM, Blogger Warastuti

      kepada Arif:

      Ada juga yang easy come, easy go. Namun apakah itu cinta?

      Pada mereka yang (merasa) terlahir untuk berkorban, mungkin cinta-yang-satu-ini yang Arif maksud tidak pernah hadir.

      Lalu terejawantah entah dalam novel, memoar, sajak, atau komposisi musik...

      kepada Yuti:

      Cinta dalam segala dimensi dan diskursus memang memukau kali ya, Yut..?

      Jika Yuti tidak berkeberatan mari lanjutkan topik ini

       
    • At March 17, 2008 12:03 AM, Anonymous Anonymous

      love is way..way..over-rated
      hehehe...



      -v3-

       
    • At March 22, 2008 1:47 AM, Blogger Warastuti

      to v3:

      hiii..ko anonymous. hehe.

      dah baca artikel pita cinta-nya belom?

       
    • At April 17, 2008 11:24 PM, Blogger rela

      aduuuu, pami baca tulisan neng ika atanapi neng yuti teh..suka membuat mata berkerut..istilahnya yang out of my mind..maklum gak berwawasan luas.. :p
      cuma, pingin komen, entah nyambung entah ngga hehe...

      "aku mencintainya, karena aku mengumpulkan beribu macam kebaikannya dalam hatiku"
      "aku mencintainya, karena segala kekurangannya kuanggap sebagai kesempurnaannya sebagai seorang manusia"
      "aku mencintainya, karena Alloh telah mengjinkanku untuk mencintainya dalam sebuah mitsaqan ghalizha"
      "kenapa aku mau untuk mencintainya?"
      "karena saat bertemu dengannya, Alloh memberikan ketentraman hati yang begitu tenang kurasakan"...
      .....

      mmh btw mungkin parameternya bukan ikhwan tarbiyah atau bukan..
      tapi kesamaan visi, karena kalian akan bekerjasama membangun sebuah peradaban...
      jika visi berbeda, apalagi kita sebagai yang dipimpin..maka akan banyak ketidak sinkronan yang terjadi,
      mungkin kita bisa mengalah... tapi seberapa lama dan seberapa kuat,
      sementara visi "dakwah" kaitannya bukan hanya idealisme pribadi, tapi menyangkut hubungan kita dg Rabb kita...
      mampukah kita bertahan jika ada yang menghalangi ungkapan cinta kita pada Rabb kita?
      allahu'alam bi showab...

      *makanya..saya milih suami saya, karena insyaAlloh punya visa dakwah yang sama..dan alhamdulillah biodata saya tidak terbang kemana - mana hehe...
      janten....gimana selanjutnya? hehe ;)
      uuu kangeeeeeen ma ika....:((

       
    Post a Comment ~ back home